SELAMAT DAN SUKSES RAKERNAS HIDAYATULLAH

Dengan tema "Konsolidasi Nasional untuk Pencapaian Target Organisasi"

Di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, 20-22 Rabiul Akhir 1441 H / 17-19 Desember 2019
pinterest.com


ONE DAY ONE HADIST ~ Rabu, 11 Desember 2019 / 14 Rabi'ul akhir 1441

Do’a Memperbaiki Urusan Dunia Agama dan Akhirat 

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال، 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa sebagai berikut: “Alloohumma ashlih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj’alil mauta roohatan lii min kulli syarrin”

 Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng (ishmah) urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan (HR. Muslim no. 2720). 

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist

1- Islam adalah benteng yang melindungi seseorang agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan ketergelinciran serta menjaga dari kesesatan dan sekedar mengikuti hawa nafsu.

2- Seorang muslim beramal untuk dunianya seakan-akan ia hidup selamanya dan dia beramal untuk akhiratnya seakan-akan ia akan mati besok.

3- Seharusnya umur panjang seorang muslim dijadikan sebagaimana sarana untuk menambah amalan kebaikan dan ketaatan.

4- Kematian adalah kebebasan dari segala kejelekan. Maksudnya, boleh jadi seseorang di dunia hidup lama, namun hanya kerusakan yang ia perbuat. Oleh karenanya, kematian itulah yang menyebabkan ia terbebas dari banyak kejelekan.

5- Karena hidup yang sementara dan kematian yang pasti )datang, maka hendaklah setiap hamba memperbaiki ibadahnya dan mengokohkan amalannya, bertawakkal dan selalu meminta tolong pada Allah.

6- Semoga dengan do’a singkat namun penuh makna yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam ini bisa kita hafalkan dan amalkan. Sehingga sajian do’a ini bermanfaat.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :

- Do'a yang mencakup semua kebaikan di dunia dan memalingkan semua keburukan, karena sesungguhnya kebaikan di dunia itu mencakup semua yang didambakan dalam kehidupan dunia, seperti kesehatan, rumah yang luas, istri yang cantik, rezeki yang berlimpah, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kendaraan yang mudah, dan sebutan yang baik serta lain-lainnya; semuanya itu tercakup di dalam ungkapan mufassirin. Semua hal yang  disebutkan tadi termasuk ke dalam pengertian kebaikan di dunia.
Adapun mengenai kebaikan di akhirat, yang paling tinggi ialah masuk surga dan hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti aman dari rasa takut yang amat besar di padang mahsyar, dapat kemudahan dalam hisab, dan lain sebagainya.

 وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ , أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ 

Maka di antara manusia ada orang yang mendoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia," dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang mendoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan perliharalah kami dari siksa neraka."Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. [Al Baqoroh : 201-202]

Day 1 - Materi 3 Days Workshop "ROADMAP KEPEMIMPINAN SEKOLAH UNGGULAN".

Oleh Drs. Toto S. Atho'illah, M.Pd., Konsultan Manajemen Sekolah dan Pesantren dari PULPENMAS INSTITUTE. Workshop diikuti 80 peserta yang merupakan unsur pimpinan yang ada di lingkungan PP Hidayatullah Surabaya, selasa (10/12/2019)

Pada saat overview materi peserta diajak mentadaburi QS 61:9 dan 9:128 sebagai rujukan dalam melakukan refleksi kepemimpinan yang diampu oleh Rasululloh SAW. Rasululloh SAW telah memberikan keteladanan bagaimana sistem kepemimpinannya mampu menghadirkan Sumber Daya Muslim terbaik sebagai arsitek dan aktor perubahan, mewujudkan peradaban madani. Kepemimpinan Pendidikan Islam harus terus menerus mengeksplor nilai-nilai kepemimpinan dalam Al-Quran dan As-Sunah serta Siroh Nabawiyah bersama para 'Alim Ulama yang hanif.



Pada sesi berikutnya peserta diajak untuk mengkaji dan memahami klausul 5 dalam ISO 9001:2015 yang menjadikan leadership sebagai penggerak utama (engine) dalam pusaran PDCA yang ada dalam sistem manajemen mutu (Quality Management Systems). 

Dengan kajian klausul 5 ISO 9001:2015 yang terintegrasi Sistem Kepemimpinan Pendidikan Islam insya Allah pada saatnya nanti Lembaga Pendidikan Islam (LPI) akan menjadi LEMBAGA PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA yang menjadi wasilah menuju AKHIRAT HASANAH. Allahuakbar !




Ust. Arief A Yudanarko juga berkesempatan mendampingi sesi yang membahas tentang pengembangan LAYANAN PRIMA (excellent service development) di sekolah dan pesantren agar para stakeholder mendapatkan "customer satisfaction". Dengan layanan prima dan kepuasan pelanggan ini akan menjadikan sekolah dan pesantren sebagai tempat pemberdayaan sumber daya muslim dan konsolidasi ummat dalam mengembangkan peradaban.

Sesi terakhir hari pertama ini membahas tentang perumusan kebijakan mutu organisasi maupun kebijakan mutu kinerja setiap unit kerja.

Day 1 - Pembukaan 3 Days Workshop "Roadmap Kepemimpinan Sekolah Unggulan".

Surabaya - Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya menggelar 3 (three) Day Workshop sekolah unggulan di aula rahmad rahman, selasa (10/12).

Amun Rowie selaku sekertaris pondok pesantren hidayatullah surabaya  mengemukakan, workshop yang bertemakan "Roadmap Kepemimpinan Sekolah Unggulan" tersebut bertujuan untuk upgrading pengelola unit ponpes hidayatullah surabaya.

Ustad Amun, sapaan akrabnya, membuka workshop tersebut jam 08.00 WIB. Workshop yang berlangsung selama 3 hari dimulai dari tanggal 10 Desember hingga 12 Desember 2019.

Sekitar 70 orang dari berbagai pengelola unit yang ada di ponpes hidayatullah surabaya antusias mengikuti workshop yang dimulai hari ini jam 08.00 WIB.(sf)


===================
Follow :
IG : @hidayatullahsurabaya
FB : ponpes hidayatullah
===================
Iman Kukuh, Prestasi Hidup Terengkuh
Iman Kukuh, Prestasi Hidup Terengkuh
Iman berarti yakin. Orang beriman berarti ia meyakini akan semua kekuasaan dan kehendak Allah. Setiap gerak langkah hidupnya tidak ada yang luput dari pantauan-Nya. Memiliki  sikap dan pendirian yang kuat dalam menghadapi berbagai ujian dan tantangan juga ciri orang yang beriman

Baca Juga : Mendidik Generasi Rabbani 
 
Ia tidak cengeng, cemas, khawatir, takut, marah, secara berlebihan bila dihadapkan pada kondisi di luar batas kemampuannya. Ia yakin apa yang sedang dialaminya -setelah melakukan berbagai usaha- merupakan kehendak yang Maha Kuasa. Sikap seperti inilah yang dikenal dengan syahsiyah islamiah (keperibadian islami) yang seyogyanya harus ada pada setiap pribadi muslim.
 
Berbicara tentang pribadi muslim lebih lanjut tidak bisa lepas dari berbicara tentang iman. Memahami makna iman harus dengan pemahaman yang benar, artinya orang yang dikatakan imannya sempurna bila mampu mempraktekkan tiga tahapan iman, yaitu membenarkan dan meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan ketiga memperaktekkan dengan semua anggota badan. Ketiga hal tersebut menjadi tolak ukur tingkat keimanan seseorang.  
 
Iman Kukuh, Prestasi Hidup Terengkuh
Iman Kukuh, Prestasi Hidup Terengkuh
            Seorang pribadi muslim yang memiliki iman adalah apabila ia memiliki pemahaman agama yang kuat. Tolak ukur pemahaman agama yang kuat, apabila seseorang memiliki aqidah yang kuat. Aqidah yang kuat berasal dari ketaqwaan yang kuat. Dan taqwa yang kuat lahir dari iman yang kuat dan kokoh. Bila siklus pemahaman agama ini dipraktekkan secara istiqomah akan menjadi bekal dalam menghadapi berbagai problema kehidupan.
             
Prestasi hidup
Kehadiran Rasulullah membawa Islam sebagai penyempurna ajaran sebelumnya dalam sejarah kehidupan manusia menjadi titik tolak awal manusia mengenal Allah secara paripurna (ma'rifatullah). 
Lalu Islam mengajarkan bagaimana pribadi-pribadi yang ada ini mengenal dirinya secara utuh tidak parsial (ma'rifatul insan). Berikutnya mengenal  eksistensi alam dan menghayati kekuasaan Allah (ma'rifatul alam). 
 
 
Kajian lebih lanjut tentang ma'rifatullah, ma'rifatul insan, dan ma'rifatul alam terdapat dalam QS. Al Alaq ; 1-5 (lihat panduan berislam). Mengenal tiga jenis ma'rifat di atas menjadi bekal utama dalam mengarungi kehidupan.
 
Kehidupan seseorang tidak akan pernah luput dari adanya suatu masalah. Kadang orang melihat masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari, padahal dibalik masalah yang dihadapi terkandung di dalamnya hal-hal baru yang mungkin menjadi peluang prestasi hidup baginya. 
 
            Dalam Al Qur'an Surat al Mulk ayat : 2 Allah menjelaskan bahwa kehidupan yang ada merupakan ujian bagi manusia, siapa diantara manusia yang paling baik amalnya. Ujian yang Allah berikan tersebut kadang kita menilai merupakan masalah bagi kita. Seringkali seseorang bertindak spekulatif ketika diberikan ujian berupa masalah yang datang di luar dugaannya.  
 
Kadang seseorang sering salah sangka pada Allah tentang kondisi hidupnya. Ia berprasangka buruk pada Allah ketika permohonannya tidak terkabulkan. Seolah-olah apa yang ada di sekelilingnya merupakan masalah baginya. 
 
Padahal Allah juga menjelaskan dalam ayat lain bahwa sesungguhnya apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Demikian sebaliknya apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah. 
Iman Kukuh, Prestasi Hidup Terengkuh
Iman Kukuh, Prestasi Hidup Terengkuh
Jadi apa yang terjadi pada diri kita berupa hal buruk atau perihal baik itu semua tidak ada yang luput dari kehendak Allah. Bila kita sudah memiliki pemahaman seperti ini, maka saatnya ditularkan kepada semua pihak yang ada di sekitar kita, mulai keluarga, tetangga, teman kerja, sahabat dan kepada masyarakat pada umumnya. 
 
Memahami cara pandang seperti yang diuraikan di atas merupakan prestasi awal dan modal untuk meraih prestasi lainnya dalam hidup. Mendapatkan pekerjaan (profesi) yang layak juga merupakan prestasi, yaitu buah dari prestasi sebelumnya. 
 
Profesi apapun yang disandang seseorang hal itu merupakan lahan ibadahnya dalam arti luas (ibadah ghairu mahdah). Menyadari akan pentingnya memiliki pemahaman yang tepat tentang profesi apapun sebagai ibadah, menjadi modal berikutnya dalam mengarungi bahtera kehidupan.  Orang yang memiliki pemahaman seperti ini adalah sebuah prestasi hidup yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.
 
Berikutnya akan diperoleh prestasi-prestasi lainnya, seperti ; prestasi di tempat kerja, keluarga, bermasyarakat dan melakukan berbagai pengabdian untuk kemajuan agama dan bangsa juga merupakan prestasi. Prestasi hidup dalam konteks pribadi sukses biasanya akan tercermin dalam diri dan lingkungannya suasana yang menyenangkan. Ia melakukan berbagai macam aktifitas baik di keluarga, tempat kerja, dan di tempat-tempat strategis lainnya akan diselimuti kebahagiaan. Akhir dari semua upaya itu, muaranya "prestasi hidup terengkuh". wallahu a'lam
Oleh : Mashud Sasaki
Ketua STAI Luqman al-Hakim Surabaya
Semarak Muharram di Sekolahku
Semarak Muharram di Sekolahku
"Becak.. Becak.. Tolong antar saya"  Suara-suara lucu menggemaskan santri KB-TK Yaa Bunayya Surabaya terdengar menggaung di koridor depan  menyambut kedatangan 45 bapak tukang becak.

Hari Jumat tanggal 6 September 2019 merupakan waktu yang dinantikan santri KB-TK Yaa Bunayya Surabaya. Betapa tidak, karena hari Jum'at pekan ini santri KB-TK berkesempatan ikut serta dalam kegiatan bakti sosial dan syiar Muharram 1441 Hijriah yang bertajuk “Tebar Sedekah di Bulan Muharram”.

Seusai mengawali doa dipagi hari dan membaca adab naik kendaraan, santri KB-TK dibimbing para ustadzah menaiki kendaraan roda tiga yang telah dihias cantik  oleh bapak tukang becak.

Sepanjang perjalanan menaiki becak, santri KB-TK beberapa kali saling berpapasan. mereka saling menyapa dan bersenda gurau dengan teman-temannya di becak lain. Ketika kembali ke sekolah, sebagian santri merajuk  tidak mau turun dan ingin melakukan perjalanan dengan becak sekali lagi.

Semarak Muharram di Sekolahku

Setelah itu, Santri KB-TK Yaa Bunayya dimotivasi dengan mendengarkan kisah bapak tukang becak yang usianya sudah 85 tahun. Pak Bejo namanya, bapak yang biasa mencari penumpang terminal keputih menceritakan suka duka mencari nafkah dengan mengayuh becak.

Santri KB-TK pun banyak yang tersentuh dan mendengarkan dengan seksama, tak lupa santri KB-TK mendoakan pak Bejo serta bapak tukang becak lainnya.

Kegiatan selanjutnya adalah pemberian paket makan, sembako dan uang tunai  oleh santri KB-TK. Mereka menyalimi bapak-bapak tukang becak dengan takzim dan  saling bekerjasama memberikan paket tersebut.

Semarak Muharram di Sekolahku

Paket sedekah juga dibagikan kepada satpam, petugas kebersihan, petugas pengangkut sampah, tukang bangunan, serta marbot masjid yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

“Alhamdulillah kegiatan ini berjalan dengan lancar. tujuan dari kegiatan tebar sedekah dan syiar Muharram, yaitu mengembangkan rasa kasih sayang dan empatinya bersama bapak tukang becak sekaligus mengenalkan moda transportasi umum yang mulai terpinggirkan di era digital.” Ungkap ustadzah Ratnawati sebagai penanggung jawab kegiatan bakti sosial dan syiar Muharram 1441 Hijriah.
Ibuku Tak Seperti Para Ibu

 Seorang ibu yang biasanya merapikan kamar dengan tangan kanannya, ia mampu mengguncang dunia dengan tangan kirinya. Hati ibu bak lapangan paling luas atau samudera paling dalam bagi anak-anaknya. Dekapan ibu adalah tempat berteduh yang paling menentramkan.

Jamil az-Zahawi, “Generasi sebuah ummat tidak akan pernah hebat, jika para ibunya tidak mau peduli.” Sedangkan penyair dari lembah Nil, Mesir, Hafidh Ibrahim menggubah syair, “Ibu adalah madrasah, yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu telah menyiapkan generasi yang kesatria.”

Para ibu sebenarnya adalah para arsitek peradaban sejati. Jika mereka cerdas dan cermat memainkan perannya, maka akan hadir dari sentuhannya generasi-generasi unggulan. inilah sepenggal kisah tentang lahirnya seorang ulama’ besar dari asuhan seorang ibu yang istimewa.

Namanya Robi’ah bin Abi Abdirrahman. Namun sejarah lebih mengenalnya dengan sebutan Robi’atur Ra’yi. Robi’ah artinya musim semi. Ro’yi artinya pendapat.


Baca Juga : Amalan Yang Wajib Istiqomah

Orang yang idenya, pendapatnya, pemikirannya, selalu segar dan indah bagai musim semi. Genius. Tidak salah jika nama ini disandang oleh mufti besar kota Madinah di zamannya.

Robi’ah lahir tidak dalam keadaan yatim. Namun ia menjalani hari-hari layaknya anak yatim. Sejak kecil sampai tumbuh dewasa, orang yang sempat menimba ilmu dari Anas bin Malik ini murni hanya mendapat sentuhan kasih sayang dari ibunya.

Ayahnya pergi saat dia masih dalam kandungan sang ibu. Berangkat ke Khurasan untuk tugas perang selama dua puluh tujuh tahun. Waktu yang sangat panjang. Tanpa kabar. Tanpa berita. Masih hidupkah? Atau bahkan sudah syahid di medan laga? Tidak ada yang tahu pasti.

Akhirnya, ibunya lah yang harus berjuang, meski dalam kesendirian. Mendidik dan membesarkan Robi’ah kecil, hingga kemudian menjadi ulama’ paling cerdas saat itu.
Ibuku Tak Seperti Para Ibu

Dari sinilah mahakarya sang ibu itu dimulai. Ketika ia menyuruh buah hatinya untuk menghafal al-Qur’an di Masjid Nabawi. Bisa dibilang, ini tradisi masyarakat muslim hari itu. Menyuruh anak menghafal al-Qur’an sebelum belajar ilmu yang lain. Dan di tangan seorang guru yang tulus, Robi’ah mampu menghafal al-Qur’an dalam usia yang masih sangat belia.

Selanjutnya, sang ibu menyuruhnya untuk mengikuti dengan baik halaqah-halaqah ilmu yang ada hari itu. Tidak kemana-mana. Cukup di Masjid Nabawi yang sampai hari itu terus memancarkan cahaya ilmu. Banyak halaqah disana. Selesai mengikuti satu halaqah ilmu, Robi’ah berpindah ke halaqah yang lain.

Dua puluh tujuh tahun berlalu. Waktu yang tidak sebentar untuk sebuah perpisahan. Farukh, begitu nama asli ayah Robi’ah, ternyata masih hidup. Ia pulang ke Madinah. Untuk melepas rindu. Berharap bisa berkumpul kembali bersama istri dan anaknya.

Setiba di Madinah. Tepat di depan rumahnya. Masih belum ada yang berubah. Sama seperti dulu. Hati semakin berbunga-bunga. Air mata berlinang. Tak kuasa lagi untuk segera menumpahkan seluruh gelora kerinduan yang sudah lama terpendam.

Baca Juga : Tangga Yang Bermakna



Tiba-tiba suasana menjadi berubah. Sepertinya kali ini Farukh harus menunda dulu nostalgianya. Ketika tatapan matanya tertuju pada sesosok lelaki yang tanpa canggung keluar masuk rumahnya. Pikirannya sudah kemana-mana. Mungkinkah sang istri telah menikah lagi setelah sekian lama ditinggalnya? Emosi membuncah. Tanpa ragu-ragu lagi Farukh menarik lelaki itu. Dan akhirnya, mereka berdua terlibat baku hantam.

Orang-orang di sekitar rumah ramai-ramai menghampiri. Mereka hendak melerai pertengkaran itu. Hadir pula Malik bin Anas disana. Suasana semakin tegang. Hingga akhirnya, istri Farukh keluar dari rumah. Samar-samar dia mengamati wajah yang seolah masih tidak asing baginya. Setelah yakin bahwa lelaki itu adalah Farukh, suaminya, ia segera berteriak melerai.

“Tahukah kamu, siapa dia?” tanya ibunda Robi’ah kepada Farukh.

“Tidak! Siapa?” sahut Farukh singkat.

“Dia adalah anakmu. Robi’ah!” jelas wanita itu.

Merekapun berpelukan. Menatap satu sama lain. Sungguh pertemuan yang dramatis.

Kini, lengkap sudah kebahagiaan dirasakan oleh istri Farukh. Suaminya telah kembali. Anaknya pun sudah dewasa.

“Istriku, dimana kamu menyimpan uangku yang 30 ribu Dinar dulu?” tanya Farukh sesaat setelah suasana keakraban kembali muncul.

“Dulu kamu menguburnya di sebuah tempat, dan aku telah mengambilnya.” jelas sang istri.

Ketika mereka sedang bercakap-cakap, Robi’ah berjalan keluar rumah. Dengan pakaian rapi, ia hendak pergi menuju Masjid Nabawi. Kemudian wanita itu berkata kepada suaminya, “Sekarang, keluarlah untuk shalat di Masjid Nabawi. Nanti kita lanjutkan lagi.”


Ibuku Tak Seperti Para Ibu
Farukh segera beranjak pergi menuju Masjid Nabawi. Selesai shalat, sebagaimana lazimnya, orang-orang berkumpul dalam halaqoh-halaqoh ilmu. Begitu juga Farukh yang setelah usai shalat tidak segera beranjak pulang.

Hingga akhirnya pandangan matanya tertuju pada sebuah halaqah ilmu yang dihadiri banyak orang. Paling banyak bahkan dari sekian halaqoh ilmu yang ada. Iapun beranjak menghampiri halaqah itu, untuk sekedar memastikan, siapa guru yang akan menyampaikan ilmunya disitu. Pasti dia adalah seorang ulama’ yang istimewa. Farukh berjalan menghampiri, dan dengan sabar ia meminta jalan kepada orang-orang yang duduk berdesakan, sehingga bisa mendapat tempat didepan.

Ternyata, Robi’ah, puteranya, yang menjadi guru di halaqah itu. Rabi’ah tahu, ayahnya sedang berjalan mendekat kepadanya. Rabi’ah segera berpaling. Pura-pura tidak melihat. Farukh semakin penasaran, masih belum jelas, siapa sebenarnya ulama’ yang dikelilingi oleh murid paling banyak di Masjid Nabawi itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang di sampingnya.

“Kamu tahu, siapa orang itu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah Rabi’ah yang sedang khusyuk menyampaikan ilmu.

“Itu adalah Robi’ah bin Abi Abdirrahman.”

“Sungguh, Allah telah memuliakan anakku.” katanya lirih. Air matanya ikut berlinang.

Farukh pulang ke rumah. Hatinya sangat bahagia. Segera ia menemui istrinya.

“Sungguh, aku melihat anakmu sangat dimuliakan, melebihi para ahli ilmu lainnya.” kata Farukh berapi-api, meluapkan seluruh kebahagiaannya kepada istrinya. Air mata kembali mengiringi obrolan tersebut.

“Kira-kira, mana yang lebih kamu sukai; uang 30 ribu Dinar atau kemuliaan anakmu sebagaimana yang telah kamu lihat?” jawab sang istri.

“Demi Allah, jelas aku memilih kemuliaan anakku.”

“Sungguh, aku telah menggunakan semua uangmu untuk membiayai kebesaran anakmu.” jelas sang istri.

“Demi Allah, kamu tidak menyia-nyiakan uangku.”

Begitulah kurang-lebih kisahnya.

Inilah salah satu contoh ibunda yang cerdas. Yang berorieantasi kepada kebesaran dan kehebatan buah hatinya. Banyak uang yang dimilikinya. Dan suaminya pun sedang tidak bersamanya. Namun ia tahu, bagaimana cara menginfestasikan uang itu. Ia gunakan untuk membiayai kebesaran anaknya di kemudian hari.

Memang, kebesaran tidak dapat dibeli dengan uang yang banyak sekalipun. Buktinya, betapa tidak sedikit keluarga yang hidup dalam gelimangan harta, namun tidak mampu melahirkan generasi yang baik dan hebat. Karena materi hanyalah satu dari sekian banyak sarana yang ada. Yang lebih penting adalah pembentukan mentalitas yang luhur.

Dan benarlah langkah yang dilakukan oleh Ibunda Robi’atur Ra’yi. Karena pada akhirnya, anaknya benar-benar menjadi ulama’ besar di usia yang masih sangat belia. Kurang dari dua puluh tujuh tahun dari usianya, Robi’ah sudah menjadi guru besar di Masjid Nabawi, dengan halaqoh paling besar dan ramai.

Dikelilingi oleh para senior ulama’ Madinah hari itu. Bahkan, banyak diantara muridnya yang kelak menjadi orang hebat sepertinya. Ada Malik bin Anas. Ada Laits bin Sa’ad. Ada Hasan bin Zaid. Ada Sufyan ats-Tsauri. Dan masih banyak lagi.

Dan yang sangat menakjubkan dari itu semua adalah sebuah pernyataan salah seorang muridnya, Malik bin Anas, tentang kebesaran dan kedalaman ilmu Rabi’ah. Ketika Robi’ah meninggal dunia di tahun 136 Hijriyah, Malik bin Anas berkata, “Kini telah hilang manisnya ilmu Fiqih.”

Mereka menjadi manusia besar dan hebat, disebabkan adanya sosok ibu yang istimewa.

Oleh Ustadz Herfi G. Faizi

Tangga Yang Bermakna

Cerita ini tentang seorang kakek yang sederhana, hidup sebagai orang kampung yang bersahaja.

Suatu sore, ia mendapati pohon pepaya di depan rumahnya telah berbuah. Walaupun hanya dua buah namun telah menguning dan siap dipanen.

Ia berencana memetik buah itu di keesokan hari. Namun, tatkala pagi tiba, ia mendapati satu buah pepayanya hilang dicuri orang.

Kakek itu begitu bersedih, hingga istrinya merasa heran. “masak hanya karena sebuah pepaya saja engkau demikian murung” ujar sang istri.

“bukan itu yang aku sedihkan” jawab sang kakek, “aku kepikiran, betapa sulitnya orang itu mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memetiknya..”

“dari itu Bun” lanjut sang kakek, “saya akan pinjam Surat Ar-Ra’d Ayat 22 dan saya taruh di bawah pohon pepaya kita, mudah-mudahan ia datang kembali mlagi kembali hadir, ia mendapati pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun.

 Ia mencoba bersabar, dan berharap pencuri itu akan muncul lagi di malam ini.

 Namun di pagi berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih di tempatnya.

Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang tamu yang menenteng duah buah pepaya besar di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut.

Singkat cerita, setelah berbincang lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa ialah yang telah mencuri pepayanya.

“Sebenarnya” kata sang tamu, “di malam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang tersisa. Namun saat saya menemukan ada tangga di sana, saya tersadarkan dan sejak itu saya bertekad untuk tidak mencuri lagi.
Tangga Yang Bermakna

Untuk itu, saya kembalikan pepaya Anda dan untuk menebus kesalahan saya, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk Anda”.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas, adalah tentang keikhlasan, kesabaran, kebajikan dan cara pandang positif terhadap kehidupan.

Mampukah kita tetap bersikap positif saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas mencari sisi baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah”?

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)“. (Surat Ar-Ra’d Ayat :22)

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta."

Semoga menginspirasi.
Hiduplah bermanfaat bagi sesama, setidaknya jangan menyakiti.